3 Masalah Sehari-hari yang Sering Kita Alami di Kehidupan Ini
Masalah tidak pernah berakhir, bahkan walau kita sudah mati, bagi orang Islam; masih ada masalah yang harus dihadapi di akhirat nanti.
| Photo by Nik Shuliahin on Unsplash |
Di artikel ini saya tidak akan membahas masalah-masalah di akhirat sana, tapi saya akan membahas beberapa masalah yang sering kita hadapi di kehidupan ini.
Tidak akan saya tulis semuanya karena di dunia ini banyak sekali masalah yang terjadi, akan sangat gila sekali jika saya menulis setiap masalah; karena masalah tidak ada batasnya.
Jadi, ini dia 3 masalah yang sering saya alami, dan mungkin kamu juga:
1. Terlalu Lama Menatap Layar Ponsel
Benda yang satu ini sudah banyak sekali membantu di kehidupan kita ini, banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari ponsel.
Namun, ada juga masalah yang akan kita rasakan saat bermain ponsel. Selalu ada hal baik dan buruk.
Di antara begitu banyak masalah dengan ponsel, salah satu yang saya sering rasakan adalah masalah kecanduan dengan ponsel. Saya sangat sulit sekali mengendalikan hawa nafsu yang saya rasakan, jadi ini bukan salah ponsel, tapi salah saya sendiri.
Untuk kamu yang berpikiran bahwa masalahnya terletak pada ponsel, maka tidak ada salahnya mencoba memikirkan ulang menggunakan perkataan yang baru saja saya katakan: "Bukan salah benda yang bernama ponsel, tapi salah saya sendiri."
Bahaya yang akan kita rasakan dari terlalu lama menatap layar ponsel adalah, kepala dan kedua bola mata kita akan mengalami rasa sakit. Itu adalah rasa sakit fisik.
Untuk rasa sakit non-fisik, mental kita akan mengalami beberapa masalah seperti, OCD, stres, dan depresi.
Bagaimana cara saya mengatasi masalah tersebut?
Ketika saya mulai merasa telah hanyut dengan kegiatan bermain ponsel yang saya lakukan, saya akan berhenti sejenak dan berpikir mengenai beberapa nilai sederhana, yaitu: "Apa yang lebih penting daripada bermain dengan ponsel?" "Apakah berlama-lama menatap layar ponsel baik untuk kehidupan saya?" Atau "Apakah saya sudah menggunakan waktu saya dengan benar sebelum bermain dengan ponsel?"
Bertanya kepada diri sendiri tentang nilai yang lebih baik dari nilai yang sedang kita pegang saat itu mungkin bisa membantu kita berpikir lebih jernih dan bisa menyelesaikan masalah tersebut.
Kita tidak usah terlalu bergantung dengan pencarian mengenai masalah yang sedang kita hadapi di Google. Ha-ha.
2. Meninggalkan Shalat, atau Menunda-nunda Ibadah
Untuk yang satu ini saya khususkan kepada para Muslim di Indonesia, tidak di negara kita saya, tapi seluruh dunia. Jika kamu orang asing dan mengerti dengan Bahasa Indonesia, maka ini yang saya maksudkan.
Dulu di masa remaja saya, saya sering meninggalkan shalat 5 waktu (subuh, dzuhur, ashar, magrib, dan isya). Kalau saya tidak meninggalkan, saya akan menunda-nundanya dengan sangat lama sekali pada akhirnya pun tidak jadi shalat.
Perilaku tersebut saya lakukan dari masa awal remaja sampai berakhirnya masa remaja saya, yaitu awal masa dewasa saya.
Di awal masa dewasa saya pun, saya masih melakukan hal itu, tapi tidak seperti waktu saya remaja, perilaku tersebut hari ini sudah saya kurangi. Saya mengusahakan untuk shalat 5 waktu setiap sudah mendengar suara adzan.
Sampai saat ini, saya masih belum bisa shalat 5 waktu setiap hari, satu hari saja belum pernah. Pasti ada salah satu waktu yang tidak bisa saya tepati waktunya, yaitu waktu shalat subuh.
Kenapa saya sulit bangun pagi-pagi untuk shalat subuh?
Alasannya sederhana, saya itu tidak mengantuk di malam hari, maksud saya sekitar jam 9 sampai 10 malam. Menurut perhatian yang saya lihat di waktu yang saya gunakan untuk melakukan kegiatan, biasanya saya mulai mengantuk di jam sekitar 11 ke atas.
Maka dari itu saya sering begadang. Dan hasilnya, jika saya tidak menyetel alarm di pukul 4 pagi, saya akan bangun kesiangan.
Itulah alasannya, sob.
Cara Saya Mengatasi Rasa Malas saat Ingin Menunaikan Ibadah
Ketika rasa malas mulai datang ke pikiran saya saat sudah waktunya shalat, saya berpikir akan kematian. Bahasa gaulnya, Memento Mori.
"Ingatlah akan kematianmu.
Kurang lebih seperti itu arti dari kata Memento Mori.
Saat berpikir mengenai hal tersebut, saya berpikir "Apakah saya sudah mempunyai bekal yang cukup untuk kehidupan saya di akhirat nanti?"
Satu lagi pertanyaan yang saya tanyakan kepada diri saya sendiri: "Apakah saya lebih memilih neraka, atau saya ingin masuk surga?"
Jika jawaban saya adalah memilih untuk masuk ke neraka dan bertemu dengan setan, saya akan meninggalkan shalat begitu saja dan melanjutkan kegiatan yang sedang saya lakukan.
Dan jika saya memilih ingin masuk surga, saya akan berhenti sejenak, mengambil air wudhu, lalu shalat.
Setiap cara yang digunakan untuk masuk neraka dan surga terlihat mudah bukan, tapi, lebih mudah metode yang digunakan di jalur neraka ketimbang jalur surga.
Tapi, walaupun jalan untuk masuk surga lumayan sulit, kesulitan tersebut hanya bersifat sementara saja. Setelah itu rasa sulit tersebut akan digantikan dengan pemandangan yang luar biasa indah di surga nanti.
Saya tidak akan menyuruh, atau pun memaksa kamu untuk menentukan tempat dimana nanti saat kamu mati. Jika kamu memilih neraka dan hidup dengan setan, silahkan. Jika kamu memilih hidup dengan malaikat-malaikat di surga, juga silahkan.
Pilihan ada di kedua tanganmu, sob.
3. Gila Bekerja
Setiap hari kita memang harus selalu menyibukan diri untuk bekerja agar bisa mendapatkan uang dan bertahan hidup selama mungkin.
Namun, bekerja juga ada batasnya. Saat kita sedang bekerja, kita tidak harus menyelesaikan pekerjaan atau proyek tersebut dalam satu hari selesai. Jika memang belum selesai dan waktu kehidupan sudah menjelang sore, berhenti secepatnya dan istirahatkanlah tubuh, pikiran, dan jiwa kita dengan hal-hal yang menghibur.
Seperti, menonton film Tiongkok di saluran YouTube Youku Indonesia, atau bermain gim; Guitar Flash adalah gim Android yang saat ini saya mainkan.
Lakukan saja hal-hal yang bisa membuat kita berhenti memikirkan pekerjaan kita untuk sementara waktu agar pikiran kembali fresh dan tidak stres juga depresi.
Saya menulis artikel ini pun tidak saya paksa diri saya untuk menyelesaikan dalam satu hari. Butuh waktu sekitar 3 hari untuk menyelesaikannya karena saya menulis sedikit demi sedikit setiap hari.
Yang penting konsisten walau hanya sedikit.
Hidup bukanlah sepenuhnya untuk bekerja, kita manusia juga membutuhkan hiburan, mengobrol dengan kekasih atau keluarga, atau mungkin teman, menambah wawasan dengan membaca buku, dan membersihkan rumah yang kotor dan berserakan.
Intinya adalah, bagi waktu di semua hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Komentar
Posting Komentar